Minggu, 27 September 2009
Jadikan Mudik Sebagai Ajang Pemberdayaan Masyarakat Desa
Sudah banyak analisis dan opini para pengamat mengenai manfaat dari acara mudik tahunan yang terjadi di Indonesia ataupun belahan dunia lainnya.
Napak tilas, silaturrahim, mengembalikan nilai luhur sebagai makhluk sosial yang senang bermasyarakat setelah setahun hidup dalam dunia persaingan dan individualis, mempererat tali persaudaraan, dan memuaskan kerinduan terhadap tanah kelahiran, dll, itulah semuanya manfaat daripada acara mudik tahunan, yang walaupun berat pelaksanaannya dan banyak menghabiskan energi serta penuh resiko dalam perjalanan, namun dari tahun ketahun kaum urban masih akan terus melakukannya sebagai tradisi yang mengasyikkan.
Secara ekonomi juga terjadi aliran uang dari kota kedesa, yang walaupun jumlahnya hanya sebagian kecil daripada jumlah keseluruhan biaya konsumsi yang dikeluarkan oleh para pemudik pada acara pulang kampung tersebut sejak saat persiapan dan selama perjalanan dan pada saat berada dikampung sampai balik kembali dikota asal.
Perlu digaris bawahi bahwa nilai tambah secara ekonomis bagi desa hanyalah sebatas biaya yang dikeluarkan oleh pemudik pada saat berada atau stay didesa tersebut termasuk ampau yang dibagikan kepada sanak keluarga, atau mungkin ada tambahan kalau ada pemudik yang telah mengirimkan terlebih dulu biaya persiapan dikampung kepada para keluarga yang akan menjamunya disana.
Kalau kita samakan bahwa pemudik sebagai wisatawan tahunan, maka yang dapat memberdayakan masyarakat desa hanyalah devisa yang mengalir dari kota kedesa yang dibawa oleh pemudik tersebut, dan selanjutnya devisa tersebut berputar didesa, sebagai tambahan segar bagi pergerakan roda ekonomi didesa.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka sudah saatnya acara mudik tahunan yang bersifat massal dan kolosal tersebut dapat ditata dan dikelola lebih baik lagi demi mengoptimalkan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat desa, dengan kata lain uang atau devisa yang mengalir dari kota kedesa bisa lebih banyak lagi.
Biasanya para pemudik banyak membawa barang dari kota kedesa, berupa buah tangan atau bekal keluarga selama berada dikampung.
Lihatlah para pemudik yang berebut tempat dikereta, bus, kapal laut maupun pesawat, umumnya membawa beberapa kotak kardus berisi barang disamping tas dan koper yang berisi penuh. Tidak berbeda, para pemudik dengan kendaraan pribadi mobil atau sepeda motor, juga membawa kotak kardus dan tas dan koper yang terisi penuh.
Bawaan yang banyak dan berat sudah pasti membuat perjalanan terasa tak nyaman. Sebaiknya bawaan tersebut dikurangi, sehingga yang dibawa hanya buah tangan dan makanan khas dari kota tempat asal pemudik saja, yang lain bisa dibeli didesa tempat tujuan, atau diberikan dalam bentuk uang tunai saja sebagai buah tangan.
Untuk memenuhi kebutuhan belanja pemudik selama didesa, mestinya harus tersedia toko-toko serba ada didesa yang buka siang dan malam, dengan stok yang cukup dan dengan harga yang wajar.
Dalam hal mencukupi kebutuhan pemudik selama didesa inilah yang perlu menjadi perhatian serius bagi masyarakat desa dan kalau perlu diorganisir oleh perangkat desa atau pemerintah daerah setempat.
Kebutuhan pemudik dapat berkembang menjadi tempat-tempat wisata, hiburan, restoran, toko oleh-oleh khas dari desa dan daerah tersebut, dll. Jika semua ini dikelola secara serius. rapi, dan berkesinambungan, niscaya para pemudik akan terbiasa gemar membelanjakan uangnya lebih banyak didesa ketimbang membawa barang dari kota.
Jika perlu pemerintah daerah setempat dapat berpartipsipasi aktif untuk memberikan pengertian kepada para pemudik agar mempunyai kebanggaan tersendiri dapat ikut serta memberdayakan masyarakat desanya, dengan banyak membelanjakan uangnya didesa kelahirannya tersebut.
Hasilnya, pemudik nyaman, desa berkembang dan Indonesia maju......................!!!
Minggu, 20 September 2009
Idul Fitri Hari Kemenangan
Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar,
La ilaha illallohu Allohu akbar,
Allohu akbar, walillahil hamdu.
Sepulang dari perang badar,
Rasulullah SAW bersabda :
"Kita baru saja pulang dari jihad kecil, menuju jihad besar".
Para sahabat terheran-heran mendengar sabda tersebut, mengingat begitu beratnya jihad pada perang badar yang dengan ijin Allah dimenangkan oleh pasukan muslimin, namun rupanya masih ada jihad yang lebih berat lagi. Kiranya jihad apa ya Rasullullah yang lebih besar daripada perang badar yang baru saja kita menangkan ?
Rasulullah menjawab :
"Jihad yang lebih besar adalah perang melawan hawa nafsu".
Ya, menundukkan hawa nafsu memang sangatlah beratnya, bahkan jauh lebih berat daripada mengalahkan musuh, yang meskipun jumlahnya jauh lebih banyak, seperti terjadi pada perang badar tersebut.
Musuh dalam perang melawan manusia dapat terlihat nyata dan jelas, tetapi tidak dalam melawan hawa nafsu, karena dibalik hawa nafsu terdapat kekuatan syetan yang bentuknya tak nampak.
Bahkan dalam perang melawan musuh yang nyata sekalipun, seorang pejuang masih harus mengalahkan hawa nafsunya sendiri terlebih dahulu, yaitu nafsu untuk meninggalkan peperangan karena takut mati, dll. Mungkin itulah sebabnya Rasulullah SAW menegaskan hal tersebut lewat hadisnya seperti diatas.
Perlu diingat bahwa perang badar berlangsung pada bulan Ramadhan, bulan dimana umat Islam diwajibkan untuk menahan diri untuk tidak melakukan beberapa nikmat pada siang hari yang pada bulan lainnya dihalalkan, seperti makan, minum dan hubungan seksual.
Untuk menjalankan itu tentu umat Islam harus berperang melawan hawa nafsunya sendiri, bahkan tidak cukup hanya itu, tetapi agar tidak membatalkan pahala puasa harus juga menahan diri dari segala perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah SWT, seperti : marah, dusta, gossip, caci-maki dan mengejek.
Meski kelihatannya sepele namun sesungguhnya amatlah berat rasanya menahan diri dari perbuatan-perbuatan tersebut.
Tak hanya menahan diri dari perbuatan tercela, tetapi juga agar nilai puasa kita sempurna, kita harus banyak melakukan perbuatan terpuji seperti ibadah sunnah shalat taraweh, tadarus al-Quran, memberikan infaq dan sedekah kepada para dhuafa, peduli kepada sesama, berlaku adil dan jujur dan tetap bekerja keras seperti hari-hari sebelumnya.
Bisa jadi jihad besar yang dituju setelah selesai jihad kecil perang badar adalah melanjutkan ibadah puasa pada waktu itu.
Allahu aklam.
Hari ini 1 Sawal 1430 umat Islam seluruh dunia baru saja menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Ibadah dimana kita perperang, jihad besar menahan dan menundukkan hawa nafsu.
Insya Allah kita telah berhasil memperoleh kemenangan besar, sehingga hari ini adalah hari kemenangan kita, hari yang suci dan Fitri,
Mohon maaf lahir dan batin".
semoga semua amal ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah SWT,
Amin.
Kamis, 17 September 2009
Mudik
Mudik
Awal pekan ini, arus mudik mulai meningkat. Kita kembali menyaksikan fenomena terbesar negara ini; mudik. Jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat, dengan beragam moda transportasi, mulai dari darat, laut, sampai udara. Mengarungi arus kemacetan berjam-jam, berdesakan di kereta api, kapal laut maupun udara, semua jadi tak berarti diguyur semangat Ramadhan dan Idul Fitri.
Mudik, dalam batas-batas tertentu, boleh jadi merupakan fenomena sosial ekonomi yang positif. Mudik memberi andil yang besar dalam menjaga nilai-nilai kekeluargaan, solidaritas, dan harmoni sosial. Mudik juga menjaga nilai-nilai kultural antara pemudik dan daerah asalnya. Dampak ekonomi mudik juga tidak bisa dipandang remeh. Bersamaan dengan mudik, triliunan rupiah uang mengalir setiap tahunnya ke daerah asal pemudik yang menggerakkan roda perekonomian lokal. Belum lagi konsumsi seperti di sektor transportasi, komunikasi, perdagangan, hotel, dan restoran.
Bergeraknya roda perekonomian tersebut tampak nyata. Pemudik tak akan pulang kampung ke halaman dengan tangan kosong. Hasil jerih payah selama sekitar setahun, seakan memang disiapkan untuk saat-saat seperti ini. Dana segar maupun dalam bentuk barang, dengan cepat mengalami perpindahan dari Ibu Kota ke daerah-daerah. Dari daerah kembali menyebar bahkan sampai ke daerah-daerah terpencil, menggerakkan kegiatan perekonomian lokal.
Di sisi lain, mudik memaksa pemerintah dan seluruh instansi terkait mempersiapkan infrastruktur terutama terkait transportasi dan komunikasi yang teramat dibutuhkan bagi pemudik. Semua pihak, dengan segala daya dikerahkan agar fenomena mudik berjalan lancar. Pendek kata, mudik mampu mendorong pergerakan roda perekonomian--baik di kota-kota besar maupun di daerah--lebih cepat dari biasanya. Mudik secara ekonomi mempunyai efek multiplier yang sangat besar.
Sayang, fenomena sebesar mudik hanya bisa kita saksikan sekali dalam setahun. Hanya saat mudiklah kita bisa menyaksikan bagaimana perekonomian lokal, formal maupun informal, mampu bergerak bersamaan tanpa saling mematikan. Bahkan, yang terjadi justru saling menopang. Perusahaan besar dan kecil beramai-ramai memberikan kemudahan perpindahan kegiatan perekonomian dan pusat ke daerah. Perusahaan besar dan kecil, berlomba-lomba melancarkan redistribusi ekonomi, penyebaran kegiatan ekonomi secara merata ke hampir seluruh daerah.
Kita tentu sangat berharap redistribusi ekonomi itu tetap bisa terlihat meski masa-masa mudik sudah usai. Kita tentu menginginkan fenomena positif mudik tersebut bisa terjadi setiap waktu. Infrastruktur yang siap pakai, nyaman dan aman, serta penyebaran kegiatan perekonomian ke daerah-daerah bisa kita saksikan setiap saat. Sehingga, perekonomian secara dapat benar-benar bergerak dan tumbuh secara mandiri, mengandalkan sektor-sektor perekonomian yang riil.
Sudah saatnya pemerintah memikirkan upaya-upaya redistribusi ekonomi dengan kontinuitas yang terjaga. Kegiatan-kegiatan usaha dan pusat-pusat bisnis, sudah waktunya dikembangkan di daerah-daerah. Sehingga, tak cuma terpusat di kota-kota besar, khususnya Ibu Kota. Peluang-peluang investasi usaha terutama sektor riil, di daerah perlu dibuka selebar-lebarnya, tanpa harus menggerogoti nilai dan norma kedaerahan. Sehingga, sumber daya di daerah bisa benar-benar dioptimalkan dan mampu menghidupkan ekonomi lokal, yang ujung-ujungnya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Mudik adalah pelajaran berharga jika serius ingin menghapus kesenjangan ekonomi pusat dan daerah.
Sabtu, 12 September 2009
Sengketa Budaya Anak Nusantara

Indonesia dan Malaysia adalah dua negara serumpun disamping Brunai Darussalam, Singapura, Papua Newgini dan Timor Leste ditambah beberapa suku bangsa di Filipina (bangsa Moro) dan Thailand (bangsa Pattani). Semuanya adalah anak bangsa yang mendiami wilayah Nusantara.
Mereka hidup damai dan sejahtera selama berabad-abad, meskipun mereka terdiri dari beberapa kerajaan yang silih berganti memiliki kekuasaan dominan diantara sesamanya. Kerajaan yang paling berpengaruh dan paling luas daerah kekuasaannya adalah Majapahit dan Sriwijaya.
Tapi sayang seribu kali sayang, kedamaian dan rasa persaudaraan itu dirusak dengan terjadinya bencana besar yang dibawa oleh kaum penjajah yang mencaplok dan membagi-bagi Nusantara menjadi beberapa negara koloni dibawah kekuasaan Belanda, Inggris , Portugis dan Spanyol.
Setelah berabad-abad dibawah kungkungan para penjajah, negara-negara anak jajahan itu akhirnya dapat memerdekakan diri masing-masing, tetapi tetap terpecah belah sesuai dengan wilayah pada saat penjajahan, tidak ada lagi Satu Negara dibawah naungan Nusantara Raya.
Akibatnya diantara negara-negara anak Nusantara tersebut terjadi persaingan sengit dalam hal ekonomi, politik dan budaya.
Awalnya persoalan budaya tidak begitu penting untuk diperebutkan, tetapi akhir-akhir ini peninggalan budaya nenek moyang yang terus dilestarikan dapat menjadi aset berharga untuk memajukan pariwisata, sekaligus menjadi penghasil devisa yang sangat besar bagi negara yang dapat memanfaatkannya.
Indonesia sangat dikenal oleh dunia internasional berkat keindahan alam dan budaya pulau dewata Bali, yang telah menjadi andalan pariwisata utama Indonesia sejak lama. Begitu juga beberapa daerah wisata lainnya seperti Yogyakarta, Danau Toba, Tana Toraja, Taman Laut Bunaken, dll. Semuanya juga telah lama terkenal sebagai kekayaan wisata Indonesia.
Akhir-akhir ini negeri jiran Malaysia, yang secara ekonomis sedikit lebih maju daripada Indonesia, mulai melirik dan memanfaatkan dunia pariwisata (tourism) sebagai andalan pemasukan devisa negaranya. Tidak tanggung-tanggung, mereka sangat getol mengiklankan Visit Malaysia dengan jargon Trully Asia.
Dalam hal management dan kecukupan fasilitas dan finansial mereka lebih unggul daripada Indonesia, tetapi dalam hal kekayaan budaya, Indonesia jauh lebih unggul.
Buktinya budaya Indonesia sangat digemari dinegari jiran tersebut, mulai dari tari-tarian, film dan musik. Jangan heran kalau hampir semua musisi Indonesia sangat banyak digemari oleh warga Malaysia, sampai-sampai musisi Malaysia menjadi gerah karena hampir semua stasion radio disana lebih suka memutar lagu-lagu Indonesia daripada lagu-lagu Malaysia. Sehingga ada ungkapan kalau sudah diatas jam 22.00 mendengar radiao-radio di Malaysia seperti berada di Jakarta saja.
Miskinnya identitas diri dan budaya anak Malaysia mengakibatkan mereka sering sekali mengakui budaya asal Indonesia sebagai budaya Malaysia sendiri, seperti batik, angklung, lagu Rasa Sayange, reog Ponorogo dan terakhir tari Pendet yang berasal dari Bali.
Mereka beralasan bahwa budaya tersebut telah lama ada di Malaysia, yang katanya merupakan warisan budaya Nusantara, dimana Malaysia juga adalah salah satu bagian dari Nusantara.
Statement itu ada benarnya, sebab kedua bangsa sebetulnya hampir sama dalam banyak hal mulai dari perawakan dan warna kulit, bahasa, pakaian, makanan, dll, sehingga apa yang disukai oleh orang Indonesia sangat besar kemungkinan disukai juga oleh orang Malaysia. Contohnya lagu-lagu Indonesia seperti disebutkan diatas sangat disenangi oleh rakyat Malaysia, dan sebaliknya ada beberapa lagu Malaysia yang digemari di Indonesia.
Bahkan lagu kebangsaan Malaysia "Negaraku" , meskipun judul dan liriknya berbeda, konon lagu tersebut sangat mirip dengan lagu pop Indonesia tahun 1930-an yaitu Terang Boelan. Lagu ini sempat menjadi theme song film Terang Boelan pada tahun 1938. Film dan lagu Terang Boelan sangat terkenal sampai ke Malaysia yang pada waktu itu masih bernama Malaya.
Hiruk pikuk mengenai sengketa budaya antara anak Nusantara tersebut yang bagi sebagian besar anak bangsa Indonesia merupakan "pencurian" budaya Indonesia oleh Malaysia sungguh sangat menghabiskan energi untuk mendudukkan perkaranya secara jernih.
Terlebih lagi selain klaim budaya tersebut Malaysia juga suka mengklaim wilayah Indonesia sebagai wilayah mereka, sehingga akibat kelalaian Indonesia, dua pulau pindah tangan menjadi milik Malaysia yaitu Sipadan dan Ligitan. Dan kini sedang dalam sengketa pula kepemilikan pulau Ambalat.
Masih banyak lagi perkara-perkara yang menjadikan konflik antara Indonesia dan Malaysia seperti masalah TKI, Manohara dan putra mahkota Klantan, Noordin M Top gembong teroris dari Malaysia yang beroperasi di Indonesia, dll.
Saya rasa masalah-masalah seperti tersebut diatas akan terus terjadi dan berulang dikemudian hari, sebagaimana masalah antar tetangga. Walaupun dapat diselesaikan satu masalah, masalah yang lain akan timbul kembali, selama masalah pokok dan utama tidak dipecahkan.
Kita adalah bangsa yang sama, memiliki ras, tradisi dan budaya yang sama, kenapa kita tidak bersatu saja lagi dibawah Negara Nusantara Raya ?
Jika itu terjadi, saya yakin sengketa anak Nusantara akan berakhir dengan sendirinya.
Rabu, 26 Agustus 2009
Asyiknya Bertani
Rz Subagyo,
Jakarta (ANTARA News) - Wajah sumringah Uu Syaeful Bachri, petani padi dari Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat, tak bisa lagi disembunyikan ketika dia mendapati beras organik produknya mampu menembus pasar Amerika Serikat.
Ketua Gabungan Kelompok Tani Simpatik itu, yang telah tujuh tahun merintis menanam padi organik dengan metode sistem rice of intensification (SRI) kini bisa berbangga hati karena produknya diakui dunia.
Pada Kamis, 19 Agustus, Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya melepas ekspor perdana beras organik untuk pasar AS
Ekspor beras organik yang merupakan beras kualitas premium tersebut tidak hanya pertama bagi Kabupaten Tasikmalaya, namun juga bagi Indonesia, sehingga hal itu merupakan sebuah prestasi yang membanggakan.
Pada ekspor beras organik yang perdana ke AS tersebut, jumlahnya memang tidak terlalu besar, yakni baru 18 ton atau sekitar 1 peti kemas. Namun, sejumlah negara lain telah menunggu untuk mengimpornya seperti Malaysia, Hongkong, Singapura, bahkan Eropa.
Emily Sutanto, Direktur PT Bloom Agro, selaku eksportir beras organik produksi kelompok tani di Tasik itu, mengungkapkan, dalam waktu dekat pihaknya akan mengekspor kembali sebanyak 19 ton ke Malaysia.
"Untuk bisa menembus ke pasaran AS tidaklah gampang karena harus memenuhi standard impor mereka. Dengan keberhasilan ini artinya beras petani di sini telah memiliki kualitas tinggi," katanya.
Pengembangan padi organik dengan metode SRI di Tasikmalaya dirintis pada 2002, dan setahun kemudian dikembangkan di areal seluas 45 ha di 11 kecamatan.
Pada saat itu produktivitas tanaman baru sekitar 69,56 kuintal/ha atau produksi keseluruhan di Kabupaten Tasikmalaya sebanyak 313 ton.
Pengembangan padi organik yang dilakukan petani tersebut bukan tidak menemui hambatan, sebaliknya sejumlah kendala masih menghadang usaha pertanian tersebut.
Seperti diceritakan Syaeful Bachri, pemilikan lahan petani umumnya masih sangat rendah yakni hanya satu hektare, sementara itu harga jual beras organik juga masih disamakan dengan padi biasa.
"Kondisi tersebut mengakibatkan petani kurang bergairah mengembangkan padi organik," katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, para petani di kabupaten tersebut membentuk gabungan kelompok tani yang mewadahi 28 kelompok petani organik di delapan kecamatan.
Kemudian gabungan kelompok tani itu menjalin bekerjasama dengan PT Bloom Agro yang memberikan pembinaan kepada petani untuk menghasilkan beras kualitas bagus serta menjamin pemasaran produk mereka.
Alami peningkatan
Pelan namun pasti produktivitas dan produksi padi organik yang dihasilkan petani Tasikmalaya meningkat, dan pada 2008 secara total mencapai 25.802 ton dengan hasil per ha sebanyak 73,80 kuintal.
Selain itu luasan persawahan padi organik dengan metode SRI juga meningkat menjadi 5.074 ha tersebar di 39 kecamatan.
Hal itu tentu saja tidak terlepas dari harga jual beras organik yang menguntungkan dibanding beras biasa sehingga petani semakin bergairah menanamnya.
Kerjasama Gabungan Kelompok Tani Simpatik dengan PT Bloom Agrom menyepakati harga jual beras petani ke perusahaan tersebut sebesar Rp8000/kg. Beras biasa harganya berkisar Rp5000/kg.
Hasil kerjakeras dan perjuangan petani Tasikmalaya untuk memproduksi beras organik yang berkualitas tersebut akhirnya membuahkan hasil yakni dengan diterimanya sertifikat organik dari "Institute or Marketology" (IMO) Swis.
Dengan adanya sertifikat tersebut berarti telah ada pengakuan internasional bahwa kelompok tani itu sudah menerapkan sistem budidaya dan pengolahan beras dengan baik dan memperhatikan prinsip-prinsip efisiensi, keamanan pangan, serta keberlanjutan produktivitas lahan.
Dari 5.074 ha per tanaman padi organik tersebut, seluas 320,33 ha yang dikembangkan oleh 28 kelompok tani di 8 kecamatan berhasil mendapatkan sertifikat dari IMO.
Hal itu akan meningkatkan daya saing beras nasional, terlebih lagi tujuan pasar ekspornya adalah Amerika Serikat yang sangat ketat dalam penerapan mutu beras.
Kondisi tersebut diperkuat lagi dengan diperolehnya sertifikat "Fair Trade" oleh PT Bloom Agro atas kerjasama yang dibangun dengan Gabungan Kelompok Tani Simpatik.
Keberhasilan Simpatik memproduksi beras organik yang mampu menembus pasar ekspor AS tersebut oleh Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim dinilai sangat membanggakan.
"Ternyata orang Indonesia mampu meningkatkan kualitas hasil pertaniannya dan langsung dijual ke tingkat dunia," katanya.
Dengan keberhasilan tersebut Pemerintah Daerah Tasikmalaya pun berniat memperluas pengembangan areal pertanaman padi organik dari yang saat ini hanya 10 persen dari total lahan pertanian di wilayah tersebut.
Bahkan pada tahun yang sama, pemda setempat akan mengembangkan proyek percontohan pada areal seluas 800 ha di tiga kecamatan, yakni Tanjungjaya, Sukaraja, dan Manonjaya.
Tidak mengganggu
Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar menyatakan, ekspor beras organik yang dilakukan gabungan kelompok tani dari Tasikmalaya tersebut tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional.
Beras organik merupakan beras kelas premium dengan harga yang lebih tinggi dari beras kualitas medium sehingga konsumennya juga golongan tertentu.
Selain itu, saat ini ekspor beras premium maupun organik Indonesia masih jauh dari target yang ditetapkan sebesar 100 ribu ton.
"Sekarang ini yang terpenuhi baru 10 ribu ton sedangkan targetnya sebanyak 100 ribu ton," katanya.
Tak hanya harga yang lebih tinggi dari harga beras medium, dalam kondisi perberasan dunian saat ini ekspor beras premium dinilai lebih menguntungkan karena harganya yang kompetitif dibanding jika mengekspor beras medium.
Selain itu beras kualitas premium umumnya memiliki kekhasan di setiap negara sehingga tidak akan bisa ditiru oleh negara lain, termasuk beras organik yang diekspor dari Tasikmalaya.
"Ekspor perdana ini merupakan tonggak sejarah Indonesia mampu mengekspor beras organik berserfikat," kata Mentan Anton Apriyantono.
Pengembangan beras organik dengan sistem SRI di masa mendatang, menurut Anton, sangat penting dalam memenuhi tuntutan akan pangan bermutu, sehat, dan aman.
Pertanian organik tidak saja menguntungkan petani karena harga produknya yang lebih tinggi dibanding beras non-organik, namun juga berdampak baik terhadap lingkungan dan keamanan atau kesehatan bagi konsumen penggunanya.
Terlebih lagi, lanjut Mentan, sistem pertanian yang dilaksanakan petani beras organik Tasikmalaya menggunakan sistem SRI yang sangat hemat agroinput dan terbukti dapat meningkatkan produktivitas.
"Kerjasama antara petani, swasta dan pemerintah daerah Tasikmalaya dalam upaya memenuhi tuntutan pasar internasional itu diharapkan dapat dijadikan model pengembangan beras organik bersertifikat untuk pasar ekspor dan dapat dikembangkan di daerah lainnya," katanya.(*)
COPYRIGHT © 2009
Selasa, 25 Agustus 2009
Ironi Negara Kaya
(inilah.com /Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta - Indonesia adalah negeri agraris sekaligus maritim yang kaya sumber daya alam. Banyak negara mampu sejahtera hanya memanfaatkan secara optimal satu aspek potensi keunggulan saja. Ironisnya, Indonesia masih tertinggal bahkan tergantung impor pangan?
Indonesia memiliki segudang potensi sumber daya alam yang bisa dipergunakan untuk peningkatan kesejahteraan rakyatnya. Misalnya pembangunan di satu sektor seperti pertanian dan kelautan bisa memperkuat kemandirian.
"Indonesia tak sungguh-sungguh membangun sektor pertanian dan kemaritiman. Akibatnya kita tak punya basis budaya (cultural base) bagi modernisasi Indonesia dalam industri dan teknologi. Semuanya tampak kacau atau rancu. Pemerintahan SBY ditantang oleh keadaan untuk menghentikan ketergantungan pada pangan impor. Ini masalah serius," kata ekonom senior M Dawam Rahardjo.
Padahal negara ini dinugerahi kekayaan alam sangat beragam. Menurut World in Figures (dunia dalam angka) yang diterbitkan majalah The Economist, Indonesia adalah negara dengan luas daratan Nomor 15 di dunia. Jumlah penduduk Nomor 4 setelah China, India, dan USA.
Tokoh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Siswono Yudo Husodo menekankan tidak banyak negara yang memiliki potensi keunggulan seperti Indonesia. Banyak negara yang mampu menjadi sejahtera hanya dengan memanfaatkan secara optimal satu aspek potensi keunggulan saja.
“Namun Indonesia untuk satu hal itu saja kurang berhasil. Pemerintah kita abai memajukan pertanian dan kelautan yang berpihak pada kepentingan rakyat,” kata Siswono Yudo Husodo.
Indonesia adalah penghasil biji-bijian terbesar ke-6 di dunia, penghasil beras ke-3 di dunia setelah China dan India, penghasil teh terbesar ke-6 di dunia, penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia, dan penghasil coklat terbesar ke-3 di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.
Juga penghasil terbesar minyak sawit dunia, penghasil karet alam kedua, penghasil cengkeh terbesar, penghasil tembaga ketiga setelah Cili dan AS, penghasil timah kedua dunia, penghasil nikel ke-6, penghasil emas ke-8 dunia, penghasil natural gas keenam, serta penghasil batubara ke-9 dunia.
Tak lupa Siswono mengingatkan bahwa pemerintah seringkali bertindak naif dan bodoh. Buktinya, ketika kekurangan beras, solusinya impor beras, hingga pernah menjadi negara importir beras terbesar di dunia pada 1998-2001.
Begitu juga kekurangan gula, solusinya juga impor, hingga sekarang mengimpor gula 30% dari kebutuhan nasional. Pada waktu kekurangan daging sapi, solusinya impor dan sekarang setiap tahun mendatangkan sekitar 600.000 ekor sapi, yang merupakan 25% dari konsumsi daging sapi nasional.
Kekurangan garam, solusinya juga impor hingga rata-rata 1 juta ton garam/tahun, yang merupakan 50% dari kebutuhan garam nasional. Indonesia juga mengimpor 45% dari kebutuhan kedelai, 10% kebutuhan jagung, 15% kebutuhan kacang tanah dan 70% kebutuhan susu.
Ketergantungan terhadap pangan impor menempatkan Indonesia pada kondisi dilematis. Fluktuasi harga pangan dunia siap menguras devisa lebih besar lagi. Sendi ekonomi bangsa bisa ambruk kapan saja apabila pasokan dari luar terhenti total karena berbagai alasan.
Impor pangan yang terus meningkat, juga memperlemah ketahanan ekonomi bangsa karena devisa yang susah payah diperoleh bukannya digunakan untuk menambah infrastruktur ekonomi dan meningkatkan kualitas SDM, tetapi dibelanjakan untuk hal-hal konsumtif yang sebenarnya dapat diproduksi sendiri.
Data menunjukkan, setiap tahun Indonesia harus mengeluarkan devisa setara Rp 50 triliun untuk membeli komoditas pangan negara lain. Angka itu sekitar 5% dari APBN. Komoditas tersebut meliputi kedelai, gandum, daging sapi, susu, dan gula.
Dana yang harus dikeluarkan untuk impor pangan ini bisa melonjak seiring fenomena kenaikan harga karena sebagian komoditas pertanian yang tadinya hanya digunakan untuk keperluan pangan, seperti jagung, tebu dan CPO juga mulai digunakan secara besar-besaran sebagai energi alternatif, biofuel.
Secara keseluruhan, pemerintah mengabaikan pengembangan potensi pangan lokal dan pemenuhan kebutuhan pangan warga. Akibatnya, Indonesia terjebak dalam arus impor pangan. Masalah yang harus dipecahkan pemerintahan SBY-Boediono.Antisipasi Tindakan Para Spekulan
Amankan Distribusi Bahan Pokok
Saat bulan Ramadhan, permintaan kebutuhan bahan pangan pokok biasanya mengalami peningkatan. Peningkatan permintaan ini hampir pasti diikuti dengan melonjaknya harga-harga. Begitu pula dengan Ramadhan tahun ini. Kenaikan harga bahan pokok sudah terjadi beberapa hari menjelang bulan Ramadhan. Bersamaan dengan itu, harga-harga bahan pokok pun ikut melambung. Kenaikan harga tersebut terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya adalah lantaran meningkatnya permintaan, yang selama bulan Ramadhan biasanya lebih tinggi dari bulan-bulan lainnya.Jika kenaikan harga-harga bahan pokok tersebut terjadi dalam batas-batas wajar dan dapat ditoleransi, kita tentu tak mempersoalkan. Namun, yang perlu mendapat perhatian adalah kenaikan-kenaikan yang lebih karena tindakan para spekulan. Situasi dan kondisi seperti di bulan Ramadhan ini, para spekulan memanfaatkannya dengan melakukan aksi penimbunan bahan-bahan pokok untuk kemudian melepasnya dengan harga tinggi sehingga mengancam stabilitas harga dan ketersediaan stok. Ini yang harus diwaspadai.
Pemerintah sebaiknya jangan hanya menjamin ketersediaan bahan pokok selama Ramadhan, tetapi harus mengawasi aksi penimbunan sembako. Perilaku spekulan yang biasanya `bermain` dengan menaikan harga jauh di atas harga yang seharusnya dan berfluktuatif di kisaran harga yang relatif tinggi, harus benar-benar diperhatikan. Jaminan pemerintah terkait kecukupan bahan pangan pokok tak cukup hanya di atas kertas atau pernyataan politis semata. Perlu ada tindakan konkret untuk membatasi ruang gerak spekulan.
Faktor lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah distribusi bahan pokok dari dan ke daerah. Distribusi barang terkait dengan infrastruktur, khususnya sarana dan prasarana transportasi. Jauh-dekatnya jarak, kondisi jalan dapat berpengaruh atas penentuan harga barang. Tinggi-rendahnya retribusi jalan, tarif tol, dan harga BBM menjadi bagian yang menentukan harga barang. Hal tersebut kemudian mampu memengaruhi lancar dan tidaknya distribusi barang tersebut dari satu daerah ke daerah lain.
Jika semua faktor penentu harga yang terkait dengan distribusi dan transportasi berjalan secara alami, boleh jadi konsumen 'memaklumi' kenaikan harga. Namun, jika yang terjadi adalah faktor-faktor buatan, tentunya tidak bisa ditoleransi. Faktor buatan terkait distribusi itu, apalagi kalau bukan pungutan liar alias pungli, yang notabene justru dilakukan oknum petugas yang seharusnya membantu memperlancar distribusi barang.
Akibatnya, biaya distribusi barang menjadi sangat tinggi, dan itu tak hanya karena sesuatu yang alami, tapi lebih karena maraknya pungli. Pemerintah bersama produsen boleh saja menjamin pasokan bahan pokok selama Ramadhan aman. Pertanyaannya, siapa yang bisa menjamin bahwa lonjakan harga yang 'dimaklumi' konsumen, benar-benar lebih karena faktor-faktor yang alami? Sebaliknya, tak pernah ada pernyataan pihak manapun yang mampu menjamin tidak ada spekulan dan pungli dalam distribusi bahan pokok selama Ramadhan.
Sudah saatnya pemerintah, aparat, dan semua pihak berwenang memberikan perhatian serius terhadap pasokan bahan pokok dan kelancaran arus distribusinya selama Ramadhan. Jadi, sejak dini, tingkatkan pengawasan terhadap gerak-gerik spekulan dan oknum petugas pungli. Bukan sekadar janji-janji mengamankan pasokan.

